Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
Mohon maaf, untuk saat ini data belum tersedia...
| Hari ini | : | 296 |
| Kemarin | : | 68 |
| Total | : | 38.331 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.217.88 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
Info
Dukuhrejo.id -- Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) dengan menunjuk Nanik S. Deyang sebagai kepala lembaga tersebut menggantikan Dadan Hindayana. Keputusan ini menjadi bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan berbagai program strategis BGN, terutama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Pergantian tersebut juga menarik perhatian karena latar belakang pendidikan kedua tokoh yang berbeda. Dadan Hindayana dikenal sebagai akademisi dan pakar entomologi atau ilmu serangga. Sebelum memimpin BGN, ia merupakan dosen di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) dan menempuh pendidikan doktoral di bidang entomologi di Jerman.
Sementara itu, penggantinya, Nanik S. Deyang, memiliki latar belakang pendidikan di bidang biologi. Bahkan dalam perkenalan pertamanya sebagai Kepala BGN, Nanik secara khusus menegaskan bahwa dirinya merupakan lulusan Biologi, bukan Kehutanan sebagaimana sempat beredar dalam sejumlah pemberitaan. Ia menyebut dirinya sebagai Sarjana Biologi dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.
Berdasarkan profil yang dipublikasikan BGN dan sejumlah media, Nanik merupakan lulusan program sarjana Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Kehutanan di Universitas Gadjah Mada.
Sebelum berkiprah di pemerintahan, Nanik dikenal sebagai jurnalis. Ia memulai karier di Tabloid Bangkit yang berada dalam kelompok media Kompas Gramedia, kemudian melanjutkan kiprah sebagai pimpinan media di Kelompok Media Peluang. Pengalamannya di dunia komunikasi dan media menjadi salah satu modal yang kemudian membawanya masuk ke lingkaran politik dan pemerintahan.
Nama Nanik semakin dikenal secara nasional setelah terlibat dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019. Setelah Prabowo menjadi presiden, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala BGN pada September 2025.
Dalam struktur BGN, Nanik sebelumnya menangani bidang Komunikasi Publik dan Investigasi serta berperan sebagai Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Program MBG. Kini, dengan jabatan barunya sebagai Kepala BGN, ia diharapkan mampu memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan efektivitas pelaksanaan program, serta memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Pergantian ini menandai transisi kepemimpinan di lembaga yang mengelola program gizi nasional. Jika sebelumnya BGN dipimpin oleh seorang ahli serangga yang berasal dari lingkungan akademik pertanian, kini tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan seorang sarjana biologi yang memiliki pengalaman panjang di bidang komunikasi, media, dan manajemen program pemerintah. (adm)
Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN
Total Populasi Desa Dukuhrejo
910 910
901 1811
1811
1811 1811
TOTAL : 1811 ORANG
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
| Alamat | : | Jl. Parto Sudiro RT 02 RW 02 Desa Dukuhrejo Kecamatan Bayan Kabupaten Purworejo |
| Desa | : | Dukuhrejo |
| Kecamatan | : | Bayan |
| Kabupaten | : | Purworejo |
| Kodepos | : | 54224 |
| Anggaran | : | Rp 1.309.615.751,00 |
| Realisasi | : | RP 1.256.766.409,00 |
95.96%
| Anggaran | : | Rp 1.183.606.540,00 |
| Realisasi | : | RP 1.111.626.971,00 |
93.92%
| Anggaran | : | Rp 186.579.789,00 |
| Realisasi | : | RP 186.579.789,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 1.685.093,00 |
| Realisasi | : | RP 1.685.093,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 113.275.736,00 |
| Realisasi | : | RP 102.265.895,00 |
90.28%
| Anggaran | : | Rp 765.705.000,00 |
| Realisasi | : | RP 765.705.000,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 56.037.550,00 |
| Realisasi | : | RP 37.060.550,00 |
66.14%
| Anggaran | : | Rp 326.292.400,00 |
| Realisasi | : | RP 313.188.400,00 |
95.98%
| Anggaran | : | Rp 45.421.272,00 |
| Realisasi | : | RP 35.162.552,00 |
77.41%
| Anggaran | : | Rp 838.700,00 |
| Realisasi | : | RP 838.700,00 |
100%
| Anggaran | : | Rp 360.000,00 |
| Realisasi | : | RP 860.219,00 |
238.95%
| Anggaran | : | Rp 559.256.090,00 |
| Realisasi | : | RP 503.651.821,00 |
90.06%
| Anggaran | : | Rp 240.564.800,00 |
| Realisasi | : | RP 229.852.700,00 |
95.55%
| Anggaran | : | Rp 313.872.450,00 |
| Realisasi | : | RP 313.072.450,00 |
99.75%
| Anggaran | : | Rp 15.913.200,00 |
| Realisasi | : | RP 11.050.000,00 |
69.44%
| Anggaran | : | Rp 54.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 54.000.000,00 |
100%
Dukuhrejo.id -- Presiden Prabowo Subianto resmi melakukan pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) dengan menunjuk Nanik S. Deyang sebagai kepala lembaga tersebut menggantikan Dadan Hindayana. Keputusan ini menjadi bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan berbagai program strategis BGN, terutama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Pergantian tersebut juga menarik perhatian karena latar belakang pendidikan kedua tokoh yang berbeda. Dadan Hindayana dikenal sebagai akademisi dan pakar entomologi atau ilmu serangga. Sebelum memimpin BGN, ia merupakan dosen di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) dan menempuh pendidikan doktoral di bidang entomologi di Jerman.
Sementara itu, penggantinya, Nanik S. Deyang, memiliki latar belakang pendidikan di bidang biologi. Bahkan dalam perkenalan pertamanya sebagai Kepala BGN, Nanik secara khusus menegaskan bahwa dirinya merupakan lulusan Biologi, bukan Kehutanan sebagaimana sempat beredar dalam sejumlah pemberitaan. Ia menyebut dirinya sebagai Sarjana Biologi dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.
Berdasarkan profil yang dipublikasikan BGN dan sejumlah media, Nanik merupakan lulusan program sarjana Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Kehutanan di Universitas Gadjah Mada.
Sebelum berkiprah di pemerintahan, Nanik dikenal sebagai jurnalis. Ia memulai karier di Tabloid Bangkit yang berada dalam kelompok media Kompas Gramedia, kemudian melanjutkan kiprah sebagai pimpinan media di Kelompok Media Peluang. Pengalamannya di dunia komunikasi dan media menjadi salah satu modal yang kemudian membawanya masuk ke lingkaran politik dan pemerintahan.
Nama Nanik semakin dikenal secara nasional setelah terlibat dalam tim pemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2019. Setelah Prabowo menjadi presiden, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Kepala BGN pada September 2025.
Dalam struktur BGN, Nanik sebelumnya menangani bidang Komunikasi Publik dan Investigasi serta berperan sebagai Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Program MBG. Kini, dengan jabatan barunya sebagai Kepala BGN, ia diharapkan mampu memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan efektivitas pelaksanaan program, serta memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Pergantian ini menandai transisi kepemimpinan di lembaga yang mengelola program gizi nasional. Jika sebelumnya BGN dipimpin oleh seorang ahli serangga yang berasal dari lingkungan akademik pertanian, kini tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan seorang sarjana biologi yang memiliki pengalaman panjang di bidang komunikasi, media, dan manajemen program pemerintah. (adm)
Titik sudarti
21 Oktober 2026 07:29:23
Keren Semangat bekerja dan selamat berjuang Terus semangat dalam berinovasi mencari terobosan baru...