Matahari pagi belum sempurna ketika Ayah sudah bangun lebih dulu, berjalan ke dapur dan menyalakan kompor kecil untuk menyiapkan sarapan sederhana.
Kami hanya punya nasi sisa kemarin dan secuil sambal; Ayah bercermin pada wajah kami yang kumpul di meja makan, mencoba tersenyum meski perut masih keroncongan.
“Uang untuk sekolah kakak besok belum cukup,” ujar Ayah lirih sambil mengusap keringat dari dahinya.
Aku, yang masih duduk di bangku SMP, tahu bahwa Ayah sudah mencari pekerjaan itu sejak minggu lalu, tapi belum ada panggilan.
Ibu mencoba menguatkan kami, “Nanti Ibu bawa anak-anak ke pasar, bantu bu Endah bersihin sayuran, mungkin ada upahnya.”
Meski kecil, uang itu berarti kami bisa sedikit membeli beras tambahan — hal yang tak pasti selama beberapa minggu terakhir.
Kakak sulung, Rani, berusaha tenang, padahal sekolahnya membuat biaya yang harus dibayar besok cukup besar bagi kami.
Ketika kami berdua pergi bekerja dengan Ibu, Ayah tinggal di rumah menunggu telepon pekerjaan yang mungkin tak kunjung datang.
Di pasar, ibu dibayar upah kecil untuk setiap karung sayuran yang dibersihkan; kadang harus menunggu lama agar dapat upah itu.
Rani menawarkan diri membantu pelanggan — meski dia tidak tahu banyak, senyum dan sopan santunnya membuat beberapa orang memberi tip sedikit.
Aku merasa bangga pada keluarga kami; walau lelah dan sering sakit karena kerja keras, kami berusaha bersama tanpa mengeluh.
Malam hari kami menghitung uang yang terkumpul — jumlahnya tak banyak, tapi cukup untuk membeli beras dan sedikit membayar biaya sekolah Rani.
Ayah berkata bahwa perjuangan bukan soal berapa banyak uang kita punya, tetapi tentang seberapa kuat kita tetap bersama.
Aku menatap wajah ibu, ayah, dan kakakku; kami mungkin miskin, tetapi harapan kami lebih besar dari jumlah rupiah di dompet.
Dan saat kami tertawa kecil bersama sebelum tidur, aku tahu bahwa keluarga kami punya kekayaan yang lebih berharga daripada uang — yaitu cinta dan tekad untuk terus berjuang.